
Lahir di Pulau Tello (Nias), besar di Padang, Surabaya, & Jakarta. Mulai menulis sejak bekerja di majalah komputer CHIP pada tahun 1997 diikuti dengan Majalah Computer Easy, CHIP FOTO-VIDEO digital dan CHIP Online. Sempat menerbitkan majalah CHIP di Malaysia dan Singapore tahun 2002 hingga 2004. Mulai bergabung bersama KOMPAS.com sejak Juli 2007.
Dibaca: 683
Komentar: 51
6 dari 9 Kompasianer menilai Aktual
Kompasiana sungguh beruntung mempunyai komunitas yang tidak hanya aktif tapi juga sangat peduli akan perkembangan Kompasiana menjadi media bersama yang lebih baik. Menanggapi tulisan dan masukan rekan-rekan terhadap mekanisme pilihan Terpopuler, berikut tanggapan saya mewakili admin.
Sejak format dan tampilan baru Kompasiana ditayangkan, kami sudah menerima laporan dan keluhan terkait manipulasi tulisan untuk menjadi Terpopuler. Salah satunya pernah disampaikan langsung oleh Pak Pray yang waktu itu terheran-heran dengan satu tulisan yang perubahan jumlah pembacanya sangat cepat, mencapai ratusan kali hanya dalam beberapa menit.
Seperti sudah diketahui, box Terpopuler dibuat untuk menampilkan tulisan-tulisan yang paling banyak dibaca. Proses perhitungan tersebut dilakukan oleh sistem berdasarkan page views (halaman yang paling banyak dibaca/di-load), yang kemampuannya terbatas.
Awalnya, selama halaman tulisan di-load, maka sistem akan menghitungnya tanpa mengenali faktor lain. Kemudian mekanisme terpopuler diperbaiki, sehingga mampu mengenali user. Bila user yang mengklik/me-load halaman tersebut adalah member yang sudah login, maka sistem hanya akan menghitung page view satu kali saja. Namun bila yang membuka adalah guest (anonymous/tdk login), maka page view akan dihitung sebanyak jumlah loading-nya. Kelemahan inilah yang disalahgunakan untuk mendongkrak tulisan-tulisan tertentu dengan bermacam cara. Di Internet tersedia banyak cara untuk mengklik/load halaman web tertentu, bahkan dengan cara otomasi. Kenapa tidak mengabaikan page view/loading dari user anonymous? Tentu tidak bijaksana melakukan itu, karena pengunjung anonymous yang tidak login hampir selalu lebih besar prosentase-nya daripada yang login. Normal saja bila ada orang yang hanya ingin menikmati tulisan tanpa harus registrasi.
Sempat juga terpikir untuk menerapkan mekanisme unique visitor, seperti yang diusulkan salah satu rekan. Namun mekanisme unique visitor yang dikenali berdasarkan IP address tersebut juga mempunyai banyak kekurangan. Lagi-lagi, tersedia banyak proxy site di Internet yang menawarkan fungsi anonymity, dimana IP address komputer user akan selalu berubah-ubah tiap kali mengklik URL tertentu. Unique visitor juga ‘merusak’ perhitungan karena seringkali IP address yang digunakan oleh institusi adalah satu. Kebanyakan institusi kantor menggunakan satu koneksi Internet yang kemudian dibagi kepada para karyawannya. Karena itu, biasanya IP address yang dimiliki kantor tersebut cuma satu, meskipun yang menggunakan komputer/Internet ada 2 atau 100 karyawan. Ini juga terjadi di warnet dan bahkan pelanggan broadband tertentu yang berada di satu wilayah. Yang terjadi adalah, tulisan/halaman tertentu yang dibaca oleh lebih dari satu orang di kantor, tetap akan dihitung satu kali sesuai dengan deteksi IP address-nya yang cuma satu.
Pernah juga dipikirkan mekanisme lain, yaitu cookies pada browser komputer. Cookies bisa mengatasi masalah multiple user yang menggunakan satu koneksi. Namun ada masalah teknis lain, dimana tidak semua user mengerti mengenai cookies dan masa expired cookies di tiap komputer sangat tergantung pada setting browser yang dibuat oleh user tersebut. Belum lagi pembatasan cookies (disabled cookies), yang biasanya diterapkan pada perusahaan-perusahaan yang IT policy-nya cukup ketat. Lagi-lagi penghitungan jumlah dibaca box Terpopuler menjadi tidak benar.
Maksud saya menjelaskan ini adalah setiap mekanisme mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri. Layaknya sebuah sistem web, apapun mekanisme yang dipilih selalu ada backdoor atau cara memanipulasinya. Kami setuju bahwa mekanisme Terpopuler harus dibuat lebih baik lagi, dengan semangat positif untuk memajukan Kompasiana, bukan alasan lain.
Setelah rembukan dengan tim IT, berikut adalah usulan mekanisme Terpopuler yang baru:
Terpopuler akan diambil dari angka tertinggi setiap tulisan, yang merupakan gabungan dari jumlah dibaca, jumlah rating/nilai, dan jumlah komentar. Jumlah dibaca, jumlah rating dan jumlah komentar akan mempunyai bobot yang berbeda-beda.
Rumusnya kira-kira seperti ini:
Terpopuler (100%) = x% Jumlah Dibaca + x% Jumlah Komentar + x% Jumlah Nilai
Dari ketiga faktor di atas, Jumlah Nilai akan diberi bobot lebih besar, diikuti dengan Jumlah Komentar dan Jumlah Dibaca. Jumlah Nilai berbobot lebih karena agak sulit untuk disalahgunakan. Seperti diketahui nilai/rating tulisan hanya bisa diberikan satu kali dan oleh member terdaftar saja.
Meskipun terlihat lebih kompleks, perlu diketahui bahwa mekanisme baru ini juga tidak sempurna. Jumlah Dibaca tetap dapat dimanipulasi, meskipun kini tidak lagi berperan tunggal dan bobot prosentasenya dibuat kecil. Jumlah Komentar juga tidak mencerminkan kualitas tulisan apabila banyak komentar yang bersifat oneliner, seperti “hahahaha….” atau “setujuuuu”. (Note: Lebih jauh mengenai himbauan no oneliner, akan disusulkan di tulisan lain).
Kami terbuka dengan usulan atau ide lain dalam mengatur mekanisme Terpopuler. Atau bila ada yang ingin menanyakan atau mengklarifikasi soal draft mekanisme baru di atas, silakan disampaikan.
Pada dasarnya fitur Terpopuler adalah bagian dari sistem Kompasiana yang bersifat panduan navigasi, highlight, dan stopper bagi pembaca. Mari melihat dan menggunakan fitur Terpopuler tersebut dengan bijak. Saya yakin manipulasi dalam bentuk apapun akan tidak berarti bila masing-masing kita berinteraksi dengan tujuan yang baik dan bertanggung jawab.
Sekali lagi, terima kasih atas masukan rekan-rekan mengenai mekanisme Terpopuler. Dukungan rekan2 semua yang mendorong dan menyemangati kami untuk selalu memperbaiki. Kami juga berharap dukungan dan partisipasi aktif rekan-rekan dalam menggunakan fungsi dan atribut yang ada di Kompasiana. Interaksi di Kompasiana bersifat bebas namun bertanggung jawab. Hal-hal yang sudah menjadi pengetahuan umum, seperti Netiket, Ketentuan Kompasiana, dan himbauan-himbauan di Zona Admin, agar juga menjadi perhatian kita semua.